Entah kenapa, imaji kita seringkali mentahbiskan sejarah selalu terjadi pada siang hari. Semua peristiwa seolah-olah hanya dimiliki siang. Malam seolah hilang dari pusaran sejarah. Realita yang menampak di depan mata, betapa banyak terukir sejarah di malam hari.
Malam bukanlah sekadar pertanda gelap mulai merayap. Juga bukan sekadar waktu umat manusia memejamkan mata, tidur. Selain ada ritual istirah itu, al-Imam Muhammad Bin Idris Asyyafi'ie sepreti dikutip al-Imam al-Ghazali, ada proses sepertiga malam didedikasikan untuk "ilmu" dan sepertiga malam lainnya untuk "beribadah".
Seumpama orang tertidur, gelap malam tidak sekadar memberi kesempatan "sendi-sendi kehidupan" melepas istirah. Ia juga memberi kesempatan bagi sistem kekebalan untuk memproduksi hormon-hormon imunitas (kehidupan).
Jadi sejatinya ia hanyalah jeda bagi sang kreator penyulut obor. Yang tak kenal batas ruang dan waktu, yang tak kenal letih merobek langit membidik mentega. So, tengoklah betapa dungunya si pandir kelana. Yang lelah letih menggerutu pada malam.
Tak cukup menggerutu, memang. Mesti ada yang menyalakan lilin! Betapapun yang terlihat cuma seberkas cahya di sebauh lorong pengap nan panjang. edMaL's Club
Wah, lumayan mencerahkan Bung. Kenapa tak skalian dieksplorasi itu peristiwa-peristiwa besar yang berlangsung pada malam hari, baik peristiwa dalam agama-agama besar dunia?
BalasHapusDalam negeri sendiri pun tak kalah banyak transaksi ekonomi, budaya, politik. Bahkan transaksi ekonomi kaum angkringan, budaya malam hiburan malam lengkap dengan transaksi seks.
Wow, kalau itu bisa dicover, bakal seru juga tuh blog U. Bravo edMaL's Club!
kok baru sebatas wacana? Tunjukin juga realitanya yang paling gampang dong... mungkin bisa dimulai tema transaksi dalam dunia prostitusi. Dari yang terang-terangan nyampai terselubung kan bejibun bro...? ku tunggu ya...
BalasHapus