Total Tayangan Halaman
Jumat, 20 Mei 2011
Senin, 09 Mei 2011
Selasa, 26 April 2011
Melongok Simpanan Eskpatriat Jogja
Jarum jam di layar ponsel menunjukkan pukul satu dini hari. Semilir angin terasa menusuk tulang saat seorang cewek berambut blondo model Demi More memasuki kafe BSh dengan penampilan berantakan. Rambutnya acak-acakan dan belahan rok mininya seakan ingin memamerkan pahanya yang putih mulus kepada bule-bule yang memenuhi ruangan kafe itu.
Beberapa pengunjung yang melihatnya tampak langsung menyapanya di antara hingar bingar live music yang digelar malam Minggu itu. Terlihat cewek itu, sebut saja namanya Merry (22), memang sangat dikenal oleh komunitas kafe itu. Tanpa merasa risih ia bergerak dari satu meja ke meja lainnya dengan gaya aktraktif yang berlebihan macam orang teler.
“Aku lagi frustasi, nih,” teriaknya pada seorang cewek manis yang tengah menggelendoti pundak seorang bule setengah umur. “Sebenarnya saya punya pacar orang India, tapi sama bule-bule ini saya juga sudah lama kenal,” katanya dengan logat dan gaya bicara orang Surabaya.
Di antara lampu warna merah-hijau-kuning yang silih berganti menyoroti wajahnya, Merry tampak memamerkan gigi gingsulnya yang putih. “Enak main sama mereka itu, orangnya baik-baik, apalagi kalau kita tahu cara bergaul dengan mereka,” ucapnya seraya matanya bergerak ke sana ke mari menjelajahi setiap sudut ruangan yang penuh pahatan grafir bernuansa khas Timur Tengah, Mesir kuno.
“Haiii.... David,: teriaknya dengan wajah sumringah saat melihat seorang bule memasuki ruangan. Seakan sudah terbiasa, Merry sontak langsung menyambut bule ituy dengan melompat ke dalam pelukannya.
Seorang cewek lain yang tak kalah manisnya, tampak geleng-geleng kepala ketika melihat tingkahnya. “Dasar anak sableng,” tukasnya dengan nada sebel melihat gaya urakan Merry. Beberapa bule yang kebetulan melihatnya juga ikut geleng-geleng kepala.
“Sorry, saya sudah kadung janjian. Sebentar ya, Mas,” pamit Merry seraya beringsut meninggalkan tempat duduk edMaL’s Club. “Nanti saya akan cerita lebih banyak tentang diri saya. Bisa sabaran dikit, khan,” imbuhnya seraya menyunggingkan seulas senyum manisnya.
Dan tanpa menghiraukan tatapan orang sekelilingnya, cewek berkulit kuning langsat setinggi kira-kira 156 cm yang saban harinya bekerja sebagai pemandu karaoke di sebuah rumah musik di Jalan Urip Sumoharjo Jogja itu kembali menghampiri si David yang sudah menunggu di sebuah pojok ruangan.
Sesaat kemudian pasangan yang mungkin tengah dimabok asmara itu terlibat obrolan. Entah apa yang diobrolkan. Yang pasti, bila dilihat dari raut wajah Merry yang tampak sumringah dan sebentar senyumnya merekah, jelas ada sesuatu yang menggelorakan jiwanya. “Thank’s bingkisannya yang kemarin ya...,” ucapnya lirih seraya menggelondot di pundak bule muda itu. “Kirain lupa lagi sama ultah saya,” sambungnya sembari melirik diam-diam ke arah bule itu.
Entah karena apa, si bule tampak pura-pura tak mendengar ucapan Merry. Seakan tak pernah ada sesuatu apapun, ia bahkan masih terlihat sibuk dengan dirinya sendiri. Kepalanya terus saja bergoyang-goyang mengikuti irama house music menghentak malam itu.
Sikapnya baru sedikit berubah saat Merry menjawil lengannya, “Udahan aja yok, nanti kita kemalaman. Apa besok you mau absen lagi?” ujar Merry sembari berdiri dari tempat duduknya dan buru-buru beranjak keluar dari ruangan menuju tempat parkiran.
Tak ada lima menit, mobil sedan Corolla keluaran terbaru yang dikendarainya sudah melaju ke arah Jalan Pringsurut Joggja, tempat di mana sebuah apartemen berdiri dengan megahnya. “Mungkin sudah sekitar lima bulanan kami tinggal di sana. Rencananya sih mau sampai dua tahun. Tapi entahlah, semuanya kan tergantung David. Kalau ternyata dalam perjalananya David mendadak pengin pulang ke negerinya (Korea), atau masa kontraknya habis, ya, kami pisah baik-baiklah,” tutur Merry suatu ketika.
Perempuan berwajah sendu ini mengakui bahwa antara dirinya dengan David memang terikat perjanjian layaknya suami isteri, hidup serumah tanpa surat nikah. “Apa-apa itu yang mencukupinya ya si David, dari makan, pakaian sampai sewa apartemen yang bayar ya dia. Kalaupun mesti keluar uang, paling-paling ya karana buat beli pulsa hapeku sendiri,” imbuhnya.
Gacoan
Kisah kasih Merry, hanyalah salah satu dari ribuan kisah cewek pribumi yang memang berani tampil beda. Ia, tak terkecuali juga teman-temannya, adalah sosok cewek pribumi yang dengan sadar membawa beragam cerita klise demi legitimatenya aksi petualangan seksualnya.
Kehadiran bule sebagai ekspatriat dalam kehidupannya, tak urung, membawa kisah tersendiri dalam kehidupan seks masyarakat kota gudheg Jogja. Sebagaian mungkin menuntaskan hasrtat biologisnya dengan wanita panggilan, atau perek secara insidentil sesuai kebutuhan. Tapi di luar itu, ternyata ada juga bule-bule yang memilih pacar tetap sebagai perempuan simpanan selama berada di Jogja. Kisah asmara Merry dengan David, misalnya, adalah salah contoh konkretnya.
Di belakang Merry, masih ada sederet nama lain. Sebut saja misalnya Wendy (24). Gadis asal kota gadang Padang ini mengaku telah menjalin hubungan dengan bule sejak semester 2. “Gua pertama kali kenal bule orang Itali, tapi dari kecil gue emang sudah terobsesi sama cowok bule,” ujar Wendy, kawan karib Merry dan Nining, memulai kisahnya. Mereka mengaku satu geng, karena kebetulan saat ini ketiga-tiganya sama-sama “dikontrak” bule Swis.
“Orang Itali itu to the point sekali. Masa baru dua kali ngajak dinner saja mereka langsung ngajakin ML juga. Gua waktu itu kan masih agak-agak belum tahu apa-apa ya sempat kaget juga dong menerima ajakan itu.,” kenang Wendy sembari menambahkan bahwa dirinya sempat dibikin kesal lantaran dicap sebagai cewek yang sok munafik.
“Bukannya gue menafik lho... Kalau gue butuh, gue masih bisa masturbasi kok. Tapi seperti pernah kubilang, waktu itu kan gue kan masih asing dengan sifat dan kebiasaaan mereka. Gimana-gimana kan gue rasa ada penyesuaian dulu, nggak langsung tancap gas, iya nggak? tanya Wendy seperti meminta dukungan.
Sebagai perempuan yang berpacaran dengan bule, Wendy memang tegas-tegas mengatakan bahwa dirinya tak mau sembarangan Ml kecuali sudah tahu benar bahwa bule itu bakal cukup lama tinggal di Indonesia, Jogja. “Gimana-gimana gue kan masih orang Timur, jadi tetap merasa lebih nyaman kalau ML-nya itu dilakukan dalam perkawinan. Kawin kontrak saja it’s okay, kok,” ujar Wendy seraya mengakui bahwa dirinya sudagh lima “berpacaran” (kawin kontrak) dengan bule.
Selama lima kali berhubungan dengan bule, bule asal Swedia ini pula yang menurutnya amat disukai Wendy. Bahkan hubungannya nyaris tak ada sekat atau jarak kendati latar belakang kultur keduanya jelas-jelas ibarat bumi dan langit. “Pokoknya amat enjoy gue,” kata Wendy.
Alasannya? Selain umurnya masih “hijau”, polos dan imut-imut, pembawaaan bule terakhir ini dianggapnya penuh perhatian. “Jadi kalau misalnya mereka tahu kita suka dibelai-belai, suka dicium tengkuknya, maka mereka akan selalu ingat dan terus melakukannya setiapkali kita sedang kencan,” tutur Wendy mengutarakan kesannya.
Berbeda dengan bule-bule sebelumnya yang di mata Wendy terlalu bernafsu, dan kelihatan hanya mau enaknya saja. Hanya berniat having fun saja dengan dirinya. Makanya tak heran kalau dalam berhubungan dengan mereka Wendy pun berusaha jaga jarak. Sebab, “Bagi gue penghargaan itu juga penting. Segoblog-goblognya oranga kan tetap ingin dihargai juga toh! Gue sebagai perempuan kan nggak mau juga kalau dianggap sebagai obyek pemuas seks belaka,” ujarnya agak emosional. .
Tanpa tedheng aling-aling tiba-tiba kawan karibnya si Nining nyletuk,” Kalau aku mah mendingan tanyain dulu deh apa dia punya surat keterangan sehat nggak,” serunya enteng hingga membuat Wendy tertawa ngakak. Seorang waitress yang kebetulan mendengar omongan Nining tampak geleng-geleng kepala sambil membereskan meja. “Masalahnya sepele, ngeri kalau ketularan raja singa. Apalagi kalau kena AIDS, hii....ngeri deh,” sambung gadis kelahiran dua puluh tiga tahun lalu di kota udang, Cirebon.
Dikatakan lebih jlentreh, awal petualangan asmara Ninging dengan bula adalah cerita klise tentang seorang gadis yang dikhianati pacarnya. “Aku tahu persis hampir married sama cowok Batak itu, tapi tiba-tiba dianya married sama gadis lain,” ujar Nining memulai kisahnya sembri menghembuskan asap rokoknya. Rasa frustasinya itu kemudian mendorong langkah Nining hingga bekerja di sebuah pabrik elektronik di Batam, menyusul bosnya memberi kesempatan mengikuti training di Jepang.
Nah, di kota sakura inilah Nining untuk pertama kalinya berpacaran dengan pria asing, Pakistan. “Sejak itulah aku mulai berhubungan dengan bule,” ujar gadis beramput cepak yang mengaku pernah mencicipi bangku kuliah di kota Jogja tapi tak sampai tamat. Petualangan asmaranya berlanjut sekembalinya ke Jogjakarta.
Di kota pelajar ini pula Nining memutuskan untuk menjadi guide sehingga bisa langsung berhuvungan secara profesional dan aman dengan lelaki bule. “Sejak kali pertama pacaran sama bule, aku memang kesengsem berat. Karena you know, bule have a very big size! Pokoknya wow, ha....ha....”tuturnya tanpa ada kesan ewuh pekkewuh secuilpun.
Tapi gerangan ada apakah sehingga Nining lebih pilih guide sebagai profesi utamanya? “Jujur saja ya, sebenarnya pekerjaan (guide) itu sendiri kurang begitu penting bagi saya. Ini bukannya nyombong, orangtua saya cukup berada. Ayah punya restoran, mamah punya salon dan pondokan. Jadi soalnya bukan karena perkara dunit semata. Mungkin ini lebih karena saya frustasi dan terlantar karena orangtua sibuk cari duit,” tuturmnya dengan wajah sendu.
“Akh, tapi sudahkah, itu soal klise, kan? ucap gadis jebolan sebuah universitas swasta tenama di Jogja. “Gara-gara pacaran sama wong Batak kuliahku bubar pasar, ujarnya dengan nada retoris sembari matanya melirik ke arah Ingwei, pacarnya asal Swedia, tampak sudah gelisah duduk sendirian di mejanya.
Dengan berprofesi sebagai guide pula, dirinya bisa merasa aman dari kekhawatiran orangtua dan macam-macam tudingan miring yang biasa terlontar dari anggota keluarganya. “Kalau terang-terangan, ya jelas nggak mungkin. Tapi memang saja jadi guide mereka sekaligus menjadi isteri kontrakan mereka,” tandasnya sambil menyulut sebatang rokok agi. Ditambahkan Nining, sebenarnya istilah isteri kontrakan di kalangan teman-teman yang seprofesi itu kurang begitu populer. “Teman-teman itu lebih kenal sebutan bojo-bojoan ketimbang isteri kontrakan,” imbuh Nining.
Berbeda dengan Mona (28) ataupun Nita (31). Mereka mengaku bahwa awalnya sama sekali tak pernah terbayangkan bakal punya demenan bule. Mona, perempuan berdarah NTT yang lahir dan besar di Jakarta dan kemudian pilih menetap di Jogja mengikuti gacoannya bule ini, mengaku hanya mengikuti gerak roda nasib saja.
Ketika akhirnya ia punya pacar orang bule, perempuan yang pernah jadi sekretaris di perusahaan group Humpus ini pun tak bias menolak suratan takdir itu. “Sejak dulu saya bahkan benci kalau lihat orang bule. Lihat saja, sudah hidupnya gila-gilaan, seenaknya, bebas, ya pokoknya nggak simpatiklah,” tuturnya sembari mengisap rokok dalam-dalam.
Kendati pada awalnya Mona benci setengah mati, toh realita mengatakan lain. Pertemuannya dengan orang bule asal Belanda itu, ternyata mampu mengubah imag negatif yang selama puluhan tahun ngendon di pikirannya.
Yang terjadi kemudian Mona seperti kena sihir pembawaan si bule, yang ternyata cool dan sangat bersahabat. Bahkan babak berikutnya, Mona rela melepaskan jabatan sekretarisnya demi sang pujaan bule itu, ikut ke Jogja dan hidup serumah selama satu setengah tahun.
Sama seperti yang dialami Nita. Janda dengan satu anak mengakui pernah jadi selingkuhan dosen fisipol UGM ini akhirnyan bertekuk lutut di hadapan asal Korea. Ia bahkan kini lebih sering tinggal di apatemen bule itu ketimbang di rumahnya sendiri. Anaknya yang baru berusia tiga tahun tak jadi soal karena ada ibu Nita yang membantu mengurusnya.
“Waktu itu kebetulan saja ada teman yang mengajak saya kenalan dengan bule yang bisa main tenis di kompleks kami”. Tapi perkenalan itu ternyata berlanjut seru karena Nita dan temannya yang sama-sama menyukai bule bernama Adams itu.
“Ya apa boleh buat, hubungan kami pun jadi renggang karena persoalan tersebut,” ujar janda yang pernah juga berpacaran dengan bule Singapura itu mengangkat bahu, seakan ingin menunjukkan ketakhirauannya lagi pada soal yang satu itu.
Seperti yang sudah-sudah, Nita akhirnya memang keluar sebagai pemenang dari persaingan itu. “Adam akhirnya memang jadi pacar saya, dan inilah tyang mungkin membuat teman saya tambah sewot,” ujarnya dengan sedkit bangga.
Mungkinkah itu semua karena sebagai janda Nita sudah jauh lebih berpengalaman dalam mengurus lelak? “Ah, ya nggak juga,” tukasnya dengan tersipu. “Ini kan soal pilihan, kan tergantung selera orangnya dong. Tapi saya sendiri memang tak mau munafik, dalam urusan ranjang misalnya, saya tetap apa adanya dan bisa bersikap terbuka,” tutur Nita seraya menggamit lengan “:suami kontrakannya” yang sedari tampak terbengong karena tak begitu paham dengan bahasa pengantar gado-gado Jawa-Indonesia. “Wong hafalnya cuma kata monggo atau sun dong,” imbuh Nita berseloroh.
Mampir Ngombe
Keberadaan para bule ekspatriat yang tinggal di Jogja, ibaratnya orang mampir ngombe semata. Habis menyeruput wedangnya dan puas, ya langsung ngacir pergi meneruskan perjalanan berikutnya. Tak heran kalau ikatan persuamiisterian mereka, atau yang lebih populer disebut “bojo-bojoan” ini, ternyata lecap merenggang rapuh dan ambruk tanpa pernah dinyana-nyana.
Seperti yang dialami Nita sendiri misalnya, hubungan bojo-bojoan-nya dengan si bule ternyata tak sampai satu tahun sudah ambruk, menyusul masa kontrak kerjanya habis. “Pamitnya sih mau pulang ke negerinya, Belanda, dan mau balik lagi ke sini untuk meminang saya. Bodohnya, saya ya kok percaya begitu saja pada janji itu,” ujar Nita tanpa ekspresi, seolah hal semacam itu sudah hal yang biasa bagi perempuan semacam Nita.
Dengan alasan yang nyaris serupa tak sama, baik Merry, Wendy maupun Nining sebenarnya pernah menelan pil pahit “pengianatan” gacoannya si bule yang ngacir begitu saja, tanpa pesan lagi. Bahkan tidak sedikit kaum eksptriat ini malah menorehhkan setitik noda dalam perjalanan sejarah kaum perempuan pribumi.
“Harta benda saya malah ludes dibawa kabur bule Itali. Padahal tadinya, dia janji mau bawa saya ke negerinya, eh nggak tahunya malah dianya yang balik ngerjani saya, “ ujar Merry yang mengaku pernah berpacaran dengan orang bule Itali selama enam bulan tapi belum juga habis masa kawin kontraknya si bule itu kabur duluan. “Tapi ya sudahlah, namanya saja orang, ada yang tulus ada yang tidak,” imbuhnya dengan nada datar.
Sebagaimana layaknya manusia normal lainnya, ada memang pasangan kawin kontrak yang berakhir dengan nikah beneran, punyak anak dan rumah segala. Ada pula yang putus kontraknya padahal cinta masih membara, sementara di pihak lain cuma iseng belaka.
Bahkan tak jarang kawin kontrak sekedar memenuhi kebutuhan hasrat bilogisnya yang menggelegak setiap saat. Tapi tak sedikit juga yang sejak awalnya kawin kontrak hanya sekadar mengisi waktu luang, sekadar bersenang-senang saja karena feeliing untuk berumah tangga secara legal jauh dari bayangannya. .
“Kalau saya sendiri sih emang karena duit. Lain tidak, ya cuma itu saja motivasi saya demenean sama wong bule,” ujar Linda, pacar Mark, yang pernah hidup serumah di negeri Kanguru, Australia. Tapi mantan model bertubuh sintal ini enggan disebut sebagai pasangan kawin kontrak.
Pasalnya, hubungan mereka di sana bukan kawin kontrak. Sebab menurut hukum di sana (Australia), pasangan yang hidup serumah tanpa ikatan pernikahan, tetap dilindungi hukum. Jika berpisah, misalnya, masing-masing mendapat warisan gono-gono sesuai perjanjian. “Nanti kalau dia bikin ulah dan ngajak putus, aku bisa nagih. Boleh putus tapi lunasi dulu utang-utangnya yang kemarin. Masak mau enaknya saja, ngajak ML kok gratisan, tak usahlah la yu...,” ujarnya. Wow! edMaL's Club
Senin, 25 April 2011
Kenapa Mesti edMaL's Club
Entah kenapa, imaji kita seringkali mentahbiskan sejarah selalu terjadi pada siang hari. Semua peristiwa seolah-olah hanya dimiliki siang. Malam seolah hilang dari pusaran sejarah. Realita yang menampak di depan mata, betapa banyak terukir sejarah di malam hari.
Malam bukanlah sekadar pertanda gelap mulai merayap. Juga bukan sekadar waktu umat manusia memejamkan mata, tidur. Selain ada ritual istirah itu, al-Imam Muhammad Bin Idris Asyyafi'ie sepreti dikutip al-Imam al-Ghazali, ada proses sepertiga malam didedikasikan untuk "ilmu" dan sepertiga malam lainnya untuk "beribadah".
Seumpama orang tertidur, gelap malam tidak sekadar memberi kesempatan "sendi-sendi kehidupan" melepas istirah. Ia juga memberi kesempatan bagi sistem kekebalan untuk memproduksi hormon-hormon imunitas (kehidupan).
Jadi sejatinya ia hanyalah jeda bagi sang kreator penyulut obor. Yang tak kenal batas ruang dan waktu, yang tak kenal letih merobek langit membidik mentega. So, tengoklah betapa dungunya si pandir kelana. Yang lelah letih menggerutu pada malam.
Tak cukup menggerutu, memang. Mesti ada yang menyalakan lilin! Betapapun yang terlihat cuma seberkas cahya di sebauh lorong pengap nan panjang. edMaL's Club
Malam bukanlah sekadar pertanda gelap mulai merayap. Juga bukan sekadar waktu umat manusia memejamkan mata, tidur. Selain ada ritual istirah itu, al-Imam Muhammad Bin Idris Asyyafi'ie sepreti dikutip al-Imam al-Ghazali, ada proses sepertiga malam didedikasikan untuk "ilmu" dan sepertiga malam lainnya untuk "beribadah".
Seumpama orang tertidur, gelap malam tidak sekadar memberi kesempatan "sendi-sendi kehidupan" melepas istirah. Ia juga memberi kesempatan bagi sistem kekebalan untuk memproduksi hormon-hormon imunitas (kehidupan).
Jadi sejatinya ia hanyalah jeda bagi sang kreator penyulut obor. Yang tak kenal batas ruang dan waktu, yang tak kenal letih merobek langit membidik mentega. So, tengoklah betapa dungunya si pandir kelana. Yang lelah letih menggerutu pada malam.
Tak cukup menggerutu, memang. Mesti ada yang menyalakan lilin! Betapapun yang terlihat cuma seberkas cahya di sebauh lorong pengap nan panjang. edMaL's Club
Langganan:
Komentar (Atom)